Dita hanya melambaikan tangan. “Gue ngerti.” Padahal... entah benar-benar ngerti, atau cuma belum siap merasa. Tapi Dita tidak mau merasakan apa pun dulu sekarang. Perasaannya terlalu berisik jika terus didengar. Maka ia memilih jalan aman dengan menuangkan semuanya ke dalam masakan, bukan ke dalam makna. Yang penting malam ini Bram pulang dalam keadaan lelah, dan yang menyambutnya bukan sekadar lampu koridor, tapi aroma dapur dan senyum istri yang menanti. Dengan cekatan, ia mulai memasak brongkos daging dengan telur pindang, sambal goreng krecek, dan sayur lodeh berisi labu, tempe, dan daun melinjo muda. Semua bumbu ia racik dengan sabar, mengikuti catatan resep dari buku masakan lama milik Ibu Ayuning. Dita tahu, ibu mertuanya jago memasak dan hari ini, ia ingin membuktikan bahwa ia

