Bram menatapnya tajam, matanya dingin, suaranya dalam dan menekan. “Bodoh. Saya yang seharusnya bertanya. Kenapa kamu bawa dia keluar malam-malam seperti ini, dengan suhu sedingin ini? Dia hampir hipotermia, kamu tahu itu?” Kevin tertegun. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Bram melangkah cepat, membelah angin, membawa Dita dalam pelukannya seolah berat tubuh perempuan itu tidak berarti. Langkahnya mantap menuju lobi hotel, meninggalkan Kevin yang terpaksa menyusul, masih terguncang oleh kejadian tak terduga itu. Mereka naik ke lantai 19. Bram membuka pintu kamar mewahnya dan langsung membaringkan Dita di tempat tidur berlapis linen putih. Ia menyelimuti tubuh mungil itu, mengambil botol air hangat dan handuk kecil dari kamar mandi, lalu mengecek pelipis yang terluka

