Sementara Dita menurunkan rel sleting celana Bram, tangan kecilnya menyelip, menemukan apa yang sejak tadi berdetak keras di balik ritsleting itu. Ia menariknya keluar dengan pelan, matanya membulat sebentar seolah tetap belum terbiasa dengan ukuran dan bentuk yang telah berkali-kali memenuhi tubuhnya. “Pelan, Sayang…” Bram sempat memperingatkan, satu tangan menahan pinggang Dita. “Kita harus mulai dari pemanasan.” Tapi Dita hanya mencium lehernya sambil berbisik manja, “Nggak bisa... aku mau langsung...” Dan sebelum Bram sempat menahan, Dita sudah mengambil alih. Ia membimbing dirinya sendiri, pelan tapi mantap, menurunkan pinggul hingga tubuh mereka menyatu. Suaranya patah keluar dari tenggorokan, berat dan tajam. “Ahh… Mas…” Rasanya seperti tubuhnya dijejali sesuatu yang terlalu pen

