Dita menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berat menggantung di dalam dadanya, rasa bersalah yang pekat, nyaris seperti karat. “Aku ingin menemuinya dulu. Apakah boleh?” “Temui suamimu.” Dan Dita pun berjalan. Diam-diam menyesali bagaimana ia kini berada di tengah dua lelaki yang sama-sama terluka karena cintanya. Satu yang terbaring karena terlalu tulus, satu lagi yang pergi diam-diam karena terlalu paham arti memberi ruang. Langkahnya terasa berat saat menyusuri lorong menuju café di seberang rumah sakit, membawa perasaan yang tak sepenuhnya bisa ia urai antara rindu, sesal, dan takut tak bisa menebus semuanya. Dan lebih menyesakannya adalah saat Bram menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah tak ada satu pun amarah di matanya, tak ada kecewa, tak ada penuntutan. Hanya pelukan yan

