“Untuk laboratorium interdisipliner, rencananya kita sambungkan ke sayap selatan gedung lama dengan jalur akses yang bisa dilewati difabel,” sambung Sugito. “Kalau bisa, tambahkan juga ruang kolaborasi privat yang tidak terlalu besar tapi akustiknya bagus. Banyak mahasiswa S2 butuh ruang diskusi kecil yang tenang untuk menyusun proposal,” kata Bram. Ia menahan napas sejenak, tubuhnya terasa makin lemah, tapi tak satu pun dari nada suaranya memperlihatkan hal itu. Mobil akhirnya tiba di area proyek pembangunan kampus. Gedung empat lantai yang masih dalam proses berdiri megah dalam rangka baja dan dinding beton ringan. Bram turun dari mobil, wajahnya sedikit pucat, tapi tubuhnya tetap tegak. Seorang pria muda mengenakan rompi dan helm menghampiri. “Selamat pagi, Bapak. Saya Arya, arsitek

