Dita hanya tersenyum kecil. Mereka menghabiskan pagi itu dengan tenang di kafe yang sama, menyelesaikan sisa s**u cokelat dan roti yang masih tersisa. Tak ada urgensi. Tak ada air mata. Hanya kedamaian yang perlahan mulai kembali hinggap. Setelah perut terasa cukup hangat, Dita menarik tangan Mbok. “Ayo, Mbok. Aku mau beli oleh-oleh buat Mas Bram,” katanya dengan nada yang nyaris seperti Dita yang dulu. Mereka naik taksi ke pusat toko suvenir di daerah yang tidak terlalu jauh dari downtown. Di sana, Dita membeli beberapa kotak cokelat Kanada, gantungan kunci, hingga lilin aromaterapi dengan kemasan kayu. Tapi bukan itu yang membuat mata Mbok Rasti membulat, melainkan ketika Dita menariknya masuk ke sebuah butik lingerie dan pakaian dalam mewah. “Ini buat Mas Bram?” bisik Mbok dengan pip

