Kaca Pecah-4

786 Words

Kedua teman dita sudah pulang, sadar bahwa di café banyak sekali pesanan, dan Dita tidak bisa ikut dulu. “Mbak... pulang dulu, ya,” suara lembut Mbok terdengar pelan tapi teguh, menyapu kesunyian sore itu. “Istirahat sekedap di rumah. Sampun telu dinten mboten kondur. Kulo yakin Mas Bram pun badhé remen menawi njenengan saged istirahat.” (Mbak... pulang dulu, ya. Istirahat sebentar di rumah. Sudah tiga hari tidak pulang. Saya yakin Mas Bram juga pasti senang kalau njenengan bisa istirahat.) Dita, yang duduk di samping ranjang dengan tangan tetap menggenggam jemari Bram, hanya menggeleng perlahan. “Di sini juga ada kamar. Nyaman kok, Mbok...” Mbok Rasti mendekat, berlutut di samping Dita. “Tapi orangtua njenengan, Mbak. Bapak Ibu panjenengan... ngantos-ngantos, khawatir tiyang putrinipun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD