Sebelum naik ke ruang VVIP, Dita mampir ke kamar mandi wanita. Ia membuka tas kecilnya, memoles ulang bedak, merapikan alis, dan mengoleskan lip tint dengan warna mawar lembut di bibir. Ia menyemprotkan parfum tipis-tipis ke leher dan pergelangan tangan, lalu menata rambutnya yang tergerai. Ia tidak ingin tampak rapuh. Tidak di hadapan Bram. Ia ingin tampil sebagai versi terbaik dari dirinya, bahkan jika suaminya belum mengenalnya kembali. Saat ia masuk ke ruang VVIP, Bram sedang duduk setengah rebah di ranjang, lengan kirinya masih terhubung dengan selang infus. Seorang perawat tengah mengganti cairan infus, dan segera pamit begitu melihat Dita masuk. Ruangan itu hening kembali. Dita melangkah tanpa suara, mulai membereskan bekas makanan di meja kecil tanpa banyak bicara, hanya menjalank

