Dita sontak bangun, rambutnya acak-acakan namun matanya langsung tajam memperhatikan. “Mas Bram udah terapi hari ini?” tanyanya cepat, nada suaranya cemas tapi masih diselimuti sisa kantuk. Bram mengangguk pelan tanpa menoleh. Ia menatap langit pagi di luar kaca balkon dengan wajah yang tenang, nyaris datar, seperti biasa. Baru kemudian Dita menyadari kehadiran seorang dokter wanita yang tengah membereskan clipboard di sisi ruangan. Perempuan itu tersenyum ramah pada Dita dan menghampiri. “Selamat pagi, Bu Dita. Suaminya luar biasa. Progres rehabilitasi neurologisnya sangat pesat. Motorik ekstremitas bawah menunjukkan peningkatan signifikan. Beliau sudah bisa berjalan pelan tanpa alat bantu dalam sesi hari ini,” ucap dokter itu sambil menatap ke arah Bram yang masih berdiri tenang. “Ref

