Dita tidak menjawab. Tubuhnya diam, tapi bahunya naik turun pelan. Isak halus menyusup di antara detik jam dinding dan nyanyian animasi di layar televisi. Bram menghela napas dalam, lalu menunduk sedikit, suaranya kembali lirih. “Tapi… ya tolong, jangan aneh-aneh. Kayak tadi pagi. Aku… belum siap kalau itu kejadian lagi.” Perempuan di pelukannya mengangguk pelan, tidak membantah. Akhirnya, Bram memposisikan mereka dengan nyaman. Ia menarik selimut besar yang sudah disiapkan, lalu membiarkan Dita menyandarkan kepala di dadanya. Tangannya melingkar di bahu Dita, dan mereka berdua duduk berdekatan, tenang, dalam kehangatan yang ganjil tapi menenangkan. Layar televisi menampilkan adegan persahabatan dua tokoh animasi, tapi yang tertangkap oleh Bram hanyalah detak jantung Dita yang perlahan

