Menyatu dengan Jiwa-2

716 Words

Bram akhirnya menarik pinggang Dita, tubuh telanjang istrinya menempel erat di dadanya yang masih setengah basah oleh angin laut. Sorot matanya tajam, tapi bukan karena marah, lebih karena guncangan perasaan yang sulit dikendalikan. “Kenapa kamu mabuk, hm?” tanyanya pelan, tapi terdengar jelas nada kecewa yang menyelinap di antara napasnya. “Siapa yang ngajak kamu seperti ini?” Dita mendongak, wajahnya merah bukan hanya karena alkohol, tapi karena beban hati yang tak sempat ia uraikan. “Dario,” katanya ringan, hampir seperti anak kecil yang mengaku salah. “Sepupumu itu, Mas. Dia ngajak minum, hik bilangnya biar aku nggak terlalu tegang. Lagipula kamu juga masih belum ingat aku…” Ucapannya diakhiri dengan terkekeh pelan, getir, sebelum akhirnya ia menyandarkan wajah ke bahu Bram, memeluk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD