Ia tersenyum-senyum sendiri melihat deretan foto selama dua hari terakhir: Bram diam-diam memotret dirinya yang makan gudeg dengan mulut penuh, senyum canggungnya di depan galeri seni, tangan mereka yang saling menggenggam di alun-alun, dan selfie mereka berdua saat duduk lesehan malam hari. Banyak yang buram, banyak yang tidak sempurna, tapi justru itulah yang membuat hati Dita hangat. Semua terasa… nyata. Tangannya bergerak membuka layar pesan, menekan nama sahabatnya yang sejak tadi ada di pikiran. Dita: Tash, gue di paviliun. Lagi iseng lihat foto-foto jalan-jalan sama Mas Bram. Keknya bakalan ke Malioboro lagi. Lo mau dibawain apa? Beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Panggilan dari Tasha. “Gak usah repot-repot oleh-oleh, Dit. Yang penting lo cepet pulang. Gue kesepian, du

