Dengan satu gerakan malas-manis, Rania akhirnya berdiri dan duduk menyilang menghadap Prabu. Tangannya langsung melingkar di leher pria itu, dagunya bersandar di pundak kekasihnya. Tatapan mereka bertemu, dekat, terlalu dekat, dan dalam diam, jantung Rania mulai berdetak tak karuan. Prabu mengusap pelan punggungnya. “Kamu cantik banget pagi ini. Mas gak ngerti kenapa, tapi dari tadi cuma bisa mikir: semoga si kecilku ini nggak marah lama-lama.” Rania menghela napas . “Janji dulu,” bisiknya. “Jangan genit. Jangan kasih ruang buat cewek lain nyolek kamu, walau cuma sapa.” Prabu mengangguk cepat. “Siap, yang mulia calon istri.” Rania yang sedang memandangi wajahnya lekat-lekat itu mendapatkan kecupan di dahi. Mengagumi. Wajah itu terlalu memabukkan dari jarak sedekat ini. Garis rahangnya

