Suara rengekan pelan dari atas terdengar, membuat mereka berdua refleks menoleh ke tangga. Rania langsung membulatkan mata. “Mas, itu Daisy ‘kan? Ya ampun… dia belum makan malam!” Prabu mengangguk. “Ada pengasuhnya kok.” “Tetep aja! Mas tolong bawa dia ke sini ya.” “Kamu makan aja dulu.” “Gabisa, aku harus pastiin dia makan,” kata Rania sambil meletakkan mangkuknya dan bangkit berdiri. Tapi Prabu menekankan bahunya lembut agar tetap duduk. “Biar aku aja. Kamu makan dulu yang bener.” Rania menurut, walau bibirnya masih sedikit manyun. Setelah Prabu melangkah naik, Rania menoleh ke arah dapur kecil yang sekarang hangat dan wangi keju serta rempah. Pikirannya tiba-tiba melayang. Tadi siang... lalu sore... lalu mandi... lalu ranjang... Astaga. Apa pengasuh itu... mendengar? Rania me

