Rania kemudian meraih beberapa benda dari koper, yang ia bahkan tak yakin cara menggunakannya. Tapi biarlah. Ia letakkan rapi sebagai hiasan di sisi tempat tidur. Tidak semua harus dipakai, yang penting... efek kejutnya berhasil. Ia duduk di tengah ranjang, bersandar santai tapi siap menyerang kapan pun. Matanya menatap pintu kamar, senyumnya perlahan terbentuk, matanya menyala penuh rencana. Hari ini bukan hari ulang tahun biasa. Hari ini adalah hari di mana ia akan membuat suaminya mengerti... bahwa hadiah terbaiknya bukan benda, bukan kue, bukan pesta. Tapi tubuh. Hati. Dan cinta dari istrinya sendiri. "Buruannn pulang, Mas..." bisiknya sambil mengedipkan mata ke bayangan dirinya di cermin. “Gak sabar dimasukin lagi, hehehehe.” **** Prabu adalah orang penting. Seorang rektor yang

