“Kenapa tidak?” jawab Helena sambil tertawa kecil. “Siapa bilang perempuan tua tidak bisa menyembuhkan cucu dari luka cinta? Besok kita liburan, Sayang.” Dan untuk pertama kalinya sejak sampai di Paris, Rania benar-benar tersenyum dari hati. **** Sementara itu di belahan Bumi lain, Jakarta. Kota yang tidak pernah benar-benar tidur, namun bagi Prabu, tiga malam terakhir terasa seperti kuburan sunyi. Setiap langkahnya di lorong apartemen menggema tanpa jawaban, setiap pulang kerja yang biasanya disambut senyuman Rania dan pelukan hangat Daisy kini hanya diiringi ketukan sepatu dan desahan napas letih. Prabu tidak bisa menyalahkan siapa pun—terutama bukan Rania. Semua ini salahnya. Ia tahu betul seharusnya kejujuran tidak hanya berlaku untuk hal besar, tapi juga untuk hal sekecil pun yang

