Bimbang-2

705 Words

“Ini,” katanya lirih, meletakkan cangkir hangat itu di hadapan istrinya, sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, dari kejauhan, terdengar bunyi khas, “HOEEKKK!” Rania mengangkat bahu santai, menyuap sendok pertamanya. Supnya terasa sempurna, hangat, asin-gurih dengan aroma bawang putih yang membelai hidung. “Hmh, enak juga,” gumamnya pelan. Ia kemudian menyeruput matcha. Rasanya lembut, tidak pahit. Busa di atasnya kental dan hangat. Bibirnya terangkat tipis. Tak sampai lima menit, terdengar suara langkah pelan kembali mendekat. Prabu muncul dengan wajah pucat, rambut sedikit berantakan, dan mata yang tampak sedikit berair. Belum sempat pria itu membuka mulut, Rania sudah angkat tangan, sinis. “Jangan dekat-dekat. Aku bisa mual kalau cium bau muntah,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD