Pagi yang Panas-3

719 Words

“Teh aja, Tante... yang dingin sekalian. Biar adem... pikiranku panas nih.” Sambil berjalan ke dapur, Lestari hanya menggeleng sambil tersenyum, dan Tasha—dengan segala gengsinya—akhirnya pasrah duduk menunggu. Menunggu sahabatnya selesai bercinta. Karena sekalipun memalukan, urusannya terlalu penting untuk ditunda. **** Tidak jauh beda dengan Dita, pagi itu ia sedang berdiri di depan cermin, mengenakan atasan linen putih dan celana kulot krem favoritnya. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan mengering alami, sementara tangan sibuk merapikan alis dan membaurkan sedikit warna ke pipi. Ia hendak menemui Rania, setelah Tasha mengabari bahwa sedang ada urusan penting soal konsep pembukaan café. Tapi gerakannya terhenti. Dari arah dinding kamar mandi, samar... terdengar suara. Awalnya han

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD