Itu bukan ponselnya. Ia tahu betul. Ponsel Dita bergetar sekali lagi, dengan layar menyala di atas meja marmer, memperlihatkan nama yang tertera dengan jelas: "Kesayanganku Kevin." Bram sempat menahan diri. Tapi karena ponsel itu terus menyala dan tidak kunjung berhenti, ia melangkah mendekat dan hanya berniat mematikan suara. Namun... saat jempolnya menyentuh layar untuk meredupkannya, ia tidak mendapati permintaan sidik jari. Tidak ada pola kunci. Layar langsung terbuka. Bram terdiam sejenak. Matanya menangkap deretan pesan w******p yang terbuka begitu saja. Awalnya, ia ingin langsung menguncinya lagi. Tapi… “Lagi ngapain, Sayang?” “Aku mau tidur, capek banget hari ini.” “Iya, semangat ya kerjaannya. Love you.” “Love you too.” Kaku. Hambar. Chat seperti sepasang teman yang lupa

