“Ya ampun...” Dita menghembuskan napas keras, mengusap wajahnya. “Punya adik apa punya intel sih aku…” “Intelnya Kakak. Biar gak hamil duluan kayak kata Mama!” Dita langsung menjerit, “NADIRA!!” tapi adiknya sudah tertawa dan menyelam ke air. Sementara itu, Dita hanya bisa membenamkan wajah ke tangannya, nyaris mati rasa oleh kalimat terakhir itu. Mana mungkin Dita hamil, melakukannya saja belum. Tapi sialnya, rasa penasaran itu justru semakin mengganggu. Ia sering bertanya-tanya sendiri, seberapa nikmatnya sampai bisa membuat kekasih Bram menjerit begitu kencang, seperti yang pernah ia dengar dari balik dinding kamar? Kenapa suara itu tetap terngiang, bahkan terbawa sampai ke dalam mimpinya? Dan mengapa... tubuhnya kini seolah menagih hal yang belum pernah benar-benar ia rasakan? Dita

