“Keluarkan aja. Nanti minum teh hangat abis ini. Kayaknya kamu masuk angin. Tadi malam kamu renang, ‘kan?” Rania hanya bisa menjawab dengan muntah berikutnya, memegangi perutnya yang perih. “Hoekkk...!” Prabu tetap tenang. Mengusap tengkuk dan punggungnya dengan sabar, bahkan sesekali mengambil tisu untuk membersihkan wajah Rania dari sisa muntah. Wajahnya sedikit menegang karena cemas, tapi tetap penuh kendali. “Udah, ayok berdiri.” Rania masih goyah. Pandangannya kabur, tubuhnya lemas. Dia tak bisa bangkit sendiri. Tangannya terangkat, berusaha mencari pegangan. Tapi matanya terlalu kabur untuk melihat. Dan seketika... “ARRGGHH!” “AAAA! Bapak! Maaf!” Rania spontan teriak bersamaan dengan Prabu. Bukannya memegang wastafel atau lengan pria itu—ia malah mencengkeram bagian tubuh ya

