Namun sebelum ia sempat bangkit, Prabu sudah menahan gerakannya dengan satu tatapan tegas. “Mau apa?” “Dessert itu…” Rania menunjuk dengan dagunya. “Diam aja. Biar saya bawain,” ucap Prabu tanpa menunggu persetujuan, berdiri dari kursi dan melangkah menjauh. Rania hanya bisa menghembuskan napas, tersenyum tipis melihat punggung tegap pria itu yang menjauh di antara kerumunan tamu. Tapi kepergian Prabu malah membawa suasana baru di meja tersebut. Ibu Dahayu, yang sedari tadi duduk di samping sang suami, tiba-tiba berdiri dan berpindah duduk ke sisi Rania. Dengan lembut, ia menyentuh tangan Rania dan mengepalkan sesuatu ke telapaknya. “Bu?” Rania menoleh, bingung. “Cincin keluarga, Nak,” ucap Dahayu pelan tapi tegas. “Pakai ini ya. Takutnya nanti kamu ada acara atau gimana, biar pada

