Kehancuran-2

703 Words

Sebagai seorang ayah, Prabu tak sanggup membiarkan tangisan Daisy terus terdengar dari balik pintu kamar. Isak kecil itu menusuk ke dadanya, membuat napasnya tak beraturan. Di tengah kemarahannya pada Rania, perasaan bersalah menghantui karena telah meluapkan emosi di depan anak sekecil itu. Ia menghela napas berat, lalu meraih ponsel dan menekan kontak Rania. Mungkin... jika ia bisa bicara langsung, semuanya bisa diselesaikan. Setidaknya, bisa ia redam rasa kecewa yang masih mengendap. Nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali... dan tersambung. Tapi bukan suara Rania yang menjawab. Suara itu asing, lelaki, tenang—dan Prabu langsung mengenalinya. “Hallo? Pak Prabu?” Suara Rayyan. Jantung Prabu berdetak lebih keras. “Di mana Rania? Kenapa ponselnya sama kamu?” “Oh, dia sedang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD