Rania dan Kepalanya-2

834 Words

“Tanggal café dibuka…” gumamnya pelan. Tangannya mengetik tanggal yang ia ingat. Sekali. Dua kali. Dan... terbuka. Rayyan terdiam sejenak. Lalu tanpa sadar menggeser notifikasi, membuka aplikasi pesan. Di sana, ruang obrolan antara Rania dan Prabu muncul paling atas. Dan kalimat-kalimat di dalamnya—membuatnya membeku. Membaca dari atas ke bawah, ekspresinya berganti dari datar menjadi getir. Beberapa pesan terasa hangat, namun banyak juga yang terasa… terlalu formal, terlalu sopan. Seolah ada dinding tipis tapi tak kasat mata di antara mereka. Sampai akhirnya matanya menangkap kenyataan bahwa mereka hanya pura-pura pacarana demi menutupi hubungan Prabu dengan wanita lain. Rayyan terkekeh hambar. Bahunya sedikit menurun, matanya menatap layar itu dalam diam. “Pura-pura, ya?” bisiknya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD