“Lo udah jatuh cinta sama Pak Prabu. Cuma belum sadar aja.” Dan dalam diam itu, Rania tahu... hatinya perlahan mulai mengerti. **** Rania bisa mendengar suara gelak tawa kedua sahabatnya dari meja belakang—tawa yang tidak ia ikuti, karena rasanya hanya menertawakan dirinya yang terjebak dalam perasaan hampa. Di ruang administrasi yang biasa jadi tempat rapat kecil mereka, Rania duduk terpaku, menatap layar ponselnya yang tetap tidak menunjukkan tanda balasan dari Prabu. Matanya kosong, seolah semua dinamika yang selama ini ia abaikan kini menjelma bom waktu dalam pikirannya. “Ra, udah lo cut off aja itu si Rayyan. Ngapain sih masih pertahanin? Blokir nomornya dan kejar Pak Prabu,” ucap Dita sambil menyerahkan segelas teh manis hangat, mencoba mengembalikan warna di wajah Rania. Rania

