Sesampainya di apartemen, Aleeya langsung berlari kecil menuju kamar mandi, sementara Tasya mengikuti dari belakang sambil membawa kantong berisi test pack yang baru mereka beli di apotek. “Aku tunggu di luar, ya,” kata Tasya sambil menutup pintu kamar mandi dengan pelan. Aleeya hanya mengangguk, lalu membuka bungkus test pack dengan tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdebar cepat—antara cemas dan berharap. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum melakukan tes sesuai petunjuk. Beberapa menit terasa sangat lama. Di luar kamar mandi, Tasya mondar-mandir. “Kak, gimana? Udah?” “Sebentar lagi,” sahut Aleeya. Suaranya pelan dan terdengar tegang. Tak lama kemudian, Aleeya menatap alat kecil di tangannya. Dua garis. Jelas terlihat. Tangannya bergetar. Nafasnya

