Satu tahun kemudian— “Mas—” teriak Aleeya saat Kaivandra sedang berkutat dengan skripsi mahasiswanya. “Aku boleh jalan sama Tasya, ngak?” Kaivandra menatap istrinya dari balik kacamata baca. Pandangannya tenang, tapi penuh arti. Tanpa berkata apa pun, dia menggeleng pelan. Aleeya langsung manyun, lalu masuk ke ruang kerja dengan langkah malas dan wajah cemberut. Dia berdiri di depan meja kerja suaminya, bersedekap sambil menatap Kaivandra seolah menuntut penjelasan. “Mas pelit banget, sih,” gerutunya. “Cuma jalan sebentar sama Tasya. Nggak sampai hilang seharian juga.” Kaivandra menghela napas pelan, meletakkan pulpen dan mengalihkan perhatian penuh pada istrinya. “Bukan soal pelit atau nggak, Sayang. Aku cuma khawatir. Kamu belum sepenuhnya pulih, dan baru saja pulang dari rumah sak

