Keesokan harinya .... Sinar matahari pagi mulai terasa terik. Jam di pergelangan tangan Senja sudah menunjukkan pukul sepuluh. “Sudah terlambat?” Suara berat dari samping memecah lamunan Senja. Ia menoleh, mendapati Baskara yang sibuk menyetir. Tidak ada raut sebal seperti biasanya. Senja pun menggeleng. “Belum, Mas.” Baskara mengangguk. Ia mengendarai mobilnya tenang. Tidak ada obrolan lagi setelahnya. Senja lebih memilih tenggelam dalam pikiran bingungnya. Sepuluh menit sejak Baskara bertanya tadi, kini mobil hitam itu parkir sempurna di tengah jajaran parkiran rumah sakit. Gedung-gedung tinggi menyambut pemandangan Senja. Ya, hari ini Senja memiliki jadwal cek kandungan rutin. Tidak ada yang aneh. Ia bahkan datang tepat waktu sesuai janji dengan dokter, sampai Baskara yang

