Elang. Pria tersebut mendekati Senja yang terjerembap. Tubuh perempuan tersebut menyentuh dinding dingin kamar mandinya. Tubuhnya tidak bisa diam. Ia melawan rasa panas yang sulit disembuhkan. Senja sampai tidak sadar jika gaun tidur yang basah tersibak, menampilkan kulit pahanya yang mulus. “K-Kak Elang ....” Pria itu tidak menjawab. Namun, Senja bisa melihat seringai tipis di bibir Elang. Detik di jarum jam berbunyi, beriringan dengan langkah Elang yang makin mengikis jarak dengannya. “Saya sudah bilang, Senja. Saya nggak akan lepasin kamu. Saya akan datang menemui kamu.” Senja meneguk ludahnya berat. Di tengah suasana yang makin sulit, kepalanya pusing. Ada sesuatu yang membebat hingga menimbulkan rasa berat. “Jangan gila, Kak! Kakak nggak bisa terus-terusan kayak gini.” Elan

