Rose berusaha keras menahan gemetar di tubuhnya. “Aku hanya… mengatakan yang sebenarnya. Ibumu jelas-jelas menolakku. Itu fakta.” Eros menegakkan tubuhnya sedikit, namun pinggang Rose tetap terkunci dalam genggamannya. Tatapannya menusuk, suaranya meninggi setengah oktaf. “Dan aku bilang sekali lagi, Rose—dia bukan siapa-siapa. Kau berani menjadikan ‘penolakan’-nya sebagai alasan untuk kabur?!” Rose menatapnya dengan mata berkaca, tapi juga penuh amarah. “Kenapa tidak? Kau pikir aku akan bahagia hidup begini? Terkekang, terjebak, dan dipaksa menerima—” Kata-kata Rose terputus ketika Eros tiba-tiba melumat bibir Rose tanpa peringatan—kasar, menuntut, penuh kepemilikan. Rose meronta, tangannya menekan bahu Eros, tapi ciuman itu justru semakin menghimpit, semakin menegaskan siapa penguas

