Evelyn melototkan matanya dan menelan salivanya dengan susah ketika tidak sengaja melewati salah satu kamar dengan suara-suara yang tidak biasa.
Dilihat takut, tapi tidak dilihat membuat penasaram, itulah yang di rasakan oleh Evelyn saat ini.
Namun pda akhirnya dia memberanikan diri melihat apa yang dia dengar di kamar itu, di mana sebenarnya itu adalah kamar dari paman sahabatnya yang memang tidak tertutup rapat.
Evelyn semakin melotot ketika ternyata suara aneh yang di dengar adalah suara di mana paman sahabatnya ini sedang bercinta dengan istrinya.
Evelyn sempat tertegun karena melihat adegan tidak senonoh ini, di mana paman sahabatnya bergerak dengan liarnya di atas tubuh istrinya.
"Aah.. Sayang!"
"Harder. Please!"
Suara laknat itu semakin terdengar keras yang membuat Evelyn semakin meringing sendiri. Dia yang tersadar akhirnya buru-buru pergi dari sana sebelum ketahuan oleh pemilik kamar jika dia sudah mengintipnya bercinta.
Evelyn lamgsung turun ke dapur dan mengambil minuman dingin untuk mendinginkan otaknya yang terasa panas karena melihat adegan itu.
"Ini gila!" Gumam Evelyn yang masih saja memikirkan tubuh kekar paman sahabatnya tadi. Bahkan dia berada di dapur cukup lama karena tidak berani kembali dulu ke kamarnya dan akan melewati lagi kamar paman sahabatnya yang sedang adu mekanik dengan istrinya.
Lamunan Evelyn buyar ketika ada yang membuka kulkas dan membuat dia berbalik.
Dia semakin terkejut dan melotot karena ternyata yang membuka kulkas adalah paman sahabatnya.
"P-paman." Ucap Evelyn terbata namun Leo hanya menanggapinya dengan deheman.
"Sudah malam, kenapa kau masih berkeliaran?" Ucap Leo yang memang selalu dingin dan cuek dengan Evelyn.
Dia tidak terkejut ketika ada Evelyn, sahabat dari keponakannya karena memang dia sering menginap di sini lantaran ayah dari Evelyn jarang di rumah.
"Aku... aku tadi merasa kehausan. Minuman di kamar Sera sudah habis, untuk itu aku ke dapur untuk mengambil minuman, Paman." Ucap Evelyn yang menjadi gugup sendiri.
Leo sendiri mengerutkan dahinya karena merasa Evelyn sangat gugup dengannya.
"Ada apa? Kau seperti habis melihat hantu saja." Ucap Leo yang penasaran karena sikap Evelyn tidak seperti biasanya.
"T-tidak.. tidak apa. Paman! Aku masuk ke kamar Sera dulu." Evelyn memilih untuk pamit saja dan tidak mau berlama-lama dengan Leo karena apa yang di lihatnya tadi.
Bahkan dia harus menahan nafasnya sedari tadi ketika Leo pergi ke dapur hanya dengan bertelanjang da da dan tubuh yang masih berkeringat. Jelas saja Evelyn tau kenapa tubuh paman sahabatnya ini berkeringat.
"Aneh!" Leon tidak begitu menghiraukannya karena memang dia selama ini tidak terlalu memperhatikan Evelyn, sahabat dari keponakannya.
Evelyn pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar Sera, sahabatnya. Dia memang sering menginap di sana semenjak masuk kuliah.
"Ada apa, Eve?" Tanya Sera yang sempat mendengar suara sedikit berisik dari pergerakan Evelyn.
"Tidak apa. Aku hanya habis dari dapur mengambil minum." Ucap Evelyn.
"Hm..!" Hanya itu jawaban dari Sera dan dia bahkan langsung tertidur kembali karena dia memang sangat mengantuk.
"Menakutkan sekali jika dia di atas ranjang." Gumam Evelyn dengan pelan, dia masih terbayang dengan apa yang dilakukan Leo tadi dan akhirnya membuat dia menjadi gelisah sendiri.
Evelyn memilih untuk memejamkan matanya dan tidur dari pada harus membayangkan tubuh kekar dan suara laknat yang sempat merusak mata dan telinganya.
"Astaga..!" Evelyn kesulitan untuk tidur meskipun dia sudah memejamkan matanya, dia masih terbayang bagaimana pergaulatan antara paman sahabatnya dengan istrinya yang membuat dia benar-benar gelisah.
"Kenapa aku malah membayangkannya." Evelyn benar-benar gila sampai tidak bisa menghilangkan aktifitas yang menodai matanya.
Dia terpaksa turun lagi ke bawah untuk mengambil obat, dia berencana untuk meminum obat tidur saja dan dia yakin jika keluarga Sera memilikinya.
Saat melewati kamar Leo dan istrinya. Evelyn merasa lega, bahkan dia mengusap da danya karena pintu kamarnya sudah tertutup rapat yang itu artinya mungkin saja mereka sudah tertidur.
Evelyn pergi ke dapur dan mengambil kotak obat yang ternyata lumayan susah di jangkau, padahal dia merasa sudah tinggi.
"Mau mengambil apa lagi?"
Terdengar suara lelaki yang dikenal oleh Evelyn dan membuat dia terkejut bahkan dia sampai menjatuhkan sesuatu dengan tidak sengaja.
Evelyn tentu saja terkejut dengan siapa yang berbicara kepadanya dan ternyata dia adalah Leo.
"P-paman. Sejak kapan paman ada di sini?" Evelyn benar-benar terlihat gugup namun kegugupannya membuat Leo merasa jika Evelyn aneh.
"Kau sudah dua kali terkejut ketika melihatku?" Tanya Leo yang penasaran namun Evelyn menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"T-tidak, Paman! Mungkin karena ini sudah malam, jadi aku mengira jika tidak ada siapapun di sini." Ucap Evelyn beralasan yang memang cukup masuk akal.
"Sedang mencari apa?" Tanyanya lagi.
"Obat tidur. Aku tidak bisa tidur. Pikirku mungkin Oma memiliki obat tidur atau semacamnya agar aku bisa tertidur." Ucap Evelyn.
Leo akhirnya mengambilkan kotak obat itu yang memang lumayan tinggi.
"Setauku, Mama tidak pernah memiliki obat seperti itu." Ucap Leo yang mengingat jika sepertinya memang tidak ada obat semacam itu.
Evelyn sibuk mencari obat yang sebenarnya juga dia tidak tau obat yang mana.
"Sepertinya ini, aku akan membawa benerapa dan mencari tau di internet." Ucap Evelyn yang mengambil beberapa obat dan akan mencari tau, apa obat-obatan yang dia bawa.
"Salah satunya itu adalah obat sakit gigi." Ucap Leo yang memang tau obat yang di bawa oleh Evelyn.
Mendengar perkataan Leo membuat Evelyn melotot dan merasa malu minta ampun.
"Jika tidak bisa tidur, jangan meminum obat aneh-aneh. makanya jangan bergadang menonton film, kau pasti menonton film aneh-aneh." Ucap Leo yang membuat Evelyn lagi-lagi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Masalahnya bukan dia habis menonton film, tapi dia malah menyaksikan langsung adegan seperti di film-dilm. Untuk itu dia tidak bisa tertidur karena membayangkannya.
"Minum ini saja." Leo memberikan vitamin kepada Evelyn dan langsung di terima olehnya.
"Minum ini dan pejamkan saja matamu, jangan memikirkan apapun yang menganggu pikiranmu kau pasti memikirkan sesuatu. Untuk itu kau tidak bisa tidur," lanjutnya yang di angguki saja oleh Evelyn.
Padahal di dalam hatinya mengumpati paman sahabatnya ini, bagaimana tidak! Karena dialah Evelyn tidak bisa tidur, tidak tertutupnya pintu kamar Leo membuat dia akhirnya menyaksikan percintaannya dan istrinya.