Bab 122

653 Words

Giana semakin rewel sejak pagi menjelang siang. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi rasa bosan jauh lebih menyiksa dibandingkan pusing yang sesekali datang. Ia duduk bersandar di kepala ranjang hotel, selimut menutupi setengah tubuhnya, sementara matanya menatap jendela besar dengan tirai putih yang sedikit terbuka. Cahaya matahari di luar terlihat begitu menggoda, seolah memanggilnya untuk keluar dari kamar itu. Mark berdiri di dekat meja, sibuk menata beberapa dokumen dan memastikan ponselnya dalam mode senyap. Sejak tadi, ia sengaja menghindari menatap Giana terlalu lama karena tahu istrinya itu sedang dalam fase keras kepala. Ia hafal benar raut wajah itu. Bibir manyun, alis sedikit berkerut, dan mata yang menatap penuh tuntutan. “Aku mau pulang,” ucap Giana akhirnya, suaranya terdenga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD