Mark memarkir mobilnya di sisi jalan yang menghadap langsung ke taman kota. Langit sudah mulai berubah warna, jingga bercampur biru, sementara lampu-lampu taman satu per satu menyalah. Suasana sore itu ramai tapi hangat, dipenuhi suara tawa anak-anak, pedagang kaki lima yang menawarkan dagangan, dan langkah-langkah santai orang-orang yang menikmati waktu pulang kerja. Begitu turun dari mobil, Giana langsung menarik tanbgan Mark dengan wajah berbinar. “Ke sana,” katanya antusias sambil menunjuk deretan gerobak makanan. Mark menatap ke arah yang ditunjuk, lalu kembali menatap istrinya. “Kamu yakin mau makan di sini?” Giana mengangguk cepat. “Yakin. Aku lapar banget.” “Kita bisa makan di restoran,” ujar Mark, nadanya datar tapi jelas mengandung kekhawatiran. “Lebih nyaman.” “Enggak,” ja

