Gianna melangkah masuk ke area kampus dengan hati yang berdebar-debar. Hari ini, dia membawa beberapa undangan pernikahan yang sudah dicetak rapi dengan warna lilac dan hitam, lengkap dengan nama tamu dan detail acara yang elegan. Dua minggu lagi, pernikahannya dengan Mark akan digelar, dan meskipun itu masih jauh, Gianna merasa senang ingin membagikan kabar bahagia ini kepada teman-temannya lebih awal. Saat memasuki kantin kampus, Gianna menatap sekeliling. Beberapa teman sedang duduk di meja makan, asyik dengan percakapan mereka. Dengan langkah mantap, Gianna mendekati meja itu dan tersenyum. “Hai semuanya! Aku ada sesuatu yang ingin aku bagi hari ini,” katanya dengan nada ceria, membuat beberapa teman menoleh heran. Salah satu temannya, Nabila, mengangkat alisnya. “Eh, Gi… kenapa tamp

