Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Matahari baru naik setengah, sinarnya lembut menembus kaca mobil. Mark menyetir dengan tenang, satu tangannya sesekali berpindah ke arah Gibana, menggenggam jari istrinya yang sejak tadi tidak berhenti bergerak. Giana duduk di kursi penumpang, punggungnya tegak tapi bahunya tegang. Jari-jemarinya saling bertaut, lalu dilepas, lalu bertaut lagi. Nafasnya pendek-pendek. “Sayang,” suara Mark pelan tapi mantap, “kalau kamu terus mainin jari begitu, nanti kukumu habis.” Giana menoleh sekilas, berusaha tersenyum tapi gagal. “Aku deg-degan.” “Aku tahu,” jawab Mark sambil tetap fokus ke jalan. “Aku juga.” “Kamu enggak kelihatan,” gumam Giana. Mark meliriknya, lalu tersenyum kecil. “Kalau dnua-duanya panik, siapa yang nyetir?” Giana menghela n
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


