Ia mengambil handuk kedua, mencelupkannya lagi ke dalam air es, dan mulai mengusapkannya ke leher serta rahang Sera. Ia melihat bagaimana butiran air es yang dingin mengalir di kulit leher Sera yang putih pucat, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan rona merah demam di pipinya. Alaric merasa seolah-olah ia sedang memegang sebuah mahakarya porselen yang sedang retak perlahan-lahan, dan ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan kerusakannya. Setiap sentuhan jemari Alaric yang gemetar pada kulit Sera membawa beban emosional yang luar biasa. Ia menyadari betapa ringkihnya keberadaan gadis ini. Di bawah telapak tangannya, ia merasakan kehalusan kulit yang seharusnya menjadi tempat bagi kehangatan yang lembut, bukan panas yang mematikan. Alaric menatap wajah Sera dengan intensitas yang m

