Sena segera berdiri, tangannya bergerak cepat merangkul lengan Baskara. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya itu mengeras seketika. Di balik cadarnya, napas Sena mulai tidak beraturan. Ia sangat takut jika kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali di koridor rumah sakit ini. Sena teringat betapa meledaknya amarah Baskara saat melihat Zidan dulu. Sekarang, situasinya jauh lebih rumit karena ia baru saja teringat potongan janji masa lalu yang sangat dalam. "Mas, ayo pulang. Aku sudah lelah," bisik Sena pelan, mencoba menarik lengan Baskara agar segera melangkah. Zidan yang berdiri hanya terpaut dua meter dari mereka tampak masih dalam kondisi terkejut. Matanya sempat terkunci pada sosok Sena sebelum akhirnya ia tersadar sepenuhnya. "Sena?" panggil Zidan lagi. Kali ini suara

