Baskara mematung di ambang pintu. Ia melihat Sena yang sudah mengganti mukenanya, kini wanita itu tengah memasukkan pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru.
Isak tangis yang tertahan terdengar dari balik cadarnya.
"Sena, apa yang kamu lakukan?" suara Baskara terdengar goyah.
Sena berhenti sejenak, namun tetap tidak menoleh. "Aku akan pulang ke rumah Umi hari ini juga. Mas tenang saja, aku akan bilang kalau Mas sangat sibuk karena ada tugas mendadak dari kantor, jadi Mas tidak bisa menemaniku."
"Sena, dengar dulu—"
"Urus saja wanitamu itu, Mas!" potong Sena dengan suara bergetar hebat. Ia berbalik, menatap lurus ke arah Baskara dengan mata yang memerah dan sembap.
"Meskipun kita menikah bukan atas dasar cinta, tapi pemandangan tadi ... itu sangat menjijikkan! Serendah itukah aku di matamu sampai kamu tega memperlakukan aku sebegininya? Kamu membiarkan wanita lain memelukmu di dalam kamar pengantin kita sendiri!"
Sena mencengkeram tasnya kuat-kuat. "Aku... Aku..." Kalimatnya terputus. Tangisnya pecah, bahunya berguncang hebat. Ia tidak sanggup lagi berkata-kata. Rasa sakitnya sudah sampai ke puncaknya.
Sena berniat melangkah pergi melewati Baskara, namun dengan cepat Baskara menangkap pergelangan tangan Sena.
Cengkeramannya tidak kasar seperti sebelumnya, kali ini ada getaran keraguan di sana.
"Lepaskan, Mas," ucap Sena dingin sambil menatap tepat ke arah mata Baskara.
Baskara terdiam, ia melihat luka yang begitu dalam di mata itu. Sesuatu di dalam dadanya terasa perih melihat air mata istrinya.
"Tenang saja, aku tidak akan mengadu pada Ibumu. Aku hanya ingin ketenangan di rumah Umi. Aku tidak akan membuat harga dirimu rendah di depan keluarga besar kita," sambung Sena dengan nada yang sangat lirih namun penuh penekanan.
"Tapi izinkan aku pergi sekarang. Aku manusia biasa, Mas... aku bukan malaikat yang bisa terus bersabar saat hatiku diinjak-injak seperti ini."
Sena menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Baskara. Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Baskara yang berdiri mematung di tengah kamar hotel yang kini terasa sangat hampa.
Baskara menatap tangannya yang baru saja memegang Sena. Ada rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Ia ingin mengejar, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
**
Sena duduk di sebuah bangku kayu di sudut taman depan hotel yang masih sepi.
Tas punggungnya ia letakkan di samping, sementara jemarinya terus bergerak di balik gamisnya, seolah sedang menghitung dzikir yang tak putus-putus.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah..."
Suaranya bergetar, tertelan oleh suara gemericik air mancur di dekatnya. Ia menatap aspal jalanan, menunggu keberanian untuk memanggil taksi, namun hatinya mendadak diliputi keraguan yang hebat.
Bolehkah aku pergi? batinnya bimbang.
Sebagai seorang istri, ia tahu hukumnya keluar rumah—apalagi dalam keadaan emosi—tanpa izin suami yang jelas. Meskipun tadi ia sudah berpamitan, Baskara belum mengucap kata mengizinkan. Namun, di sisi lain, dadanya terasa seperti terbakar setiap kali mengingat dekapan Sarah pada suaminya.
Apa benar langkahku ini, Ya Allah? Sena memejamkan mata rapat-rapat.
Ia mengingat kembali hari di mana ia menerima lamaran Bu Lastri. Niatnya tulus, ingin berbakti dan menebus utang nyawa serta utang budi Umi pada wanita baik itu. Namun kini, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
Apakah ia sudah salah langkah? Menikah demi membalas jasa budi pada Bu Lastri, apa dia sudah menodai sakralnya pernikahan.
Aku sudah bersiap untuk tidak dicintai, pikir Sena miris. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi istri yang baik meski Mas Baskara dingin padaku.
Tapi aku tidak bersiap untuk dihina sebegininya. Aku tidak bersiap untuk melihat kemaksiatan dilakukan tepat di depan mataku sendiri.
Jujur, Sena merasa sangat rendah. Ia merasa seperti pengganggu di antara hubungan Baskara dan Sarah. Tapi ia adalah istri sah. Ia punya hak untuk dihormati, setidaknya sebagai manusia.
"Mas Baskara amat membenciku ... bahkan mungkin dia muak melihat kain ini menutupi wajahku," bisik Sena pada angin pagi.
"Tapi Mas Baskara juga tak sudi melihat wajahku. Karna dia mencintai wanita lain, dan dia pasti sangat ingin menceraikanku kalau bisa."
Rasa sakit itu bukan hanya karena cemburu, tapi karena rasa tidak dihargai yang teramat dalam. Bermesraan di depan istri sendiri adalah bentuk belati yang paling tajam bagi hati wanita mana pun.
Sena menarik napas panjang yang terasa sesak. Ia merogoh ponselnya, hendak memesan taksi. Namun, tepat saat jarinya akan menyentuh layar, sebuah bayangan panjang menutupi tempatnya duduk.
Sena tersentak dan mendongak. Di sana, Baskara berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa bersalah yang terpancar jelas dari kedua matanya
Baskara berdiri mematung di hadapan Sena. Gengsinya masih setinggi langit, namun melihat Sena yang rapuh di bangku taman itu membuat dadanya berdenyut aneh.
Ia berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah retak.
"Sena, masuk," perintahnya, suaranya masih terdengar kaku. "Soal tadi ... aku benar-benar tidak tahu kalau Sarah akan nekat datang ke hotel. Aku tidak menyuruhnya kemari."
Sena mendongak, matanya yang sembab menatap Baskara dari balik cadar.
Ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Mas tidak menyuruhnya? Lalu bagaimana dia bisa tahu nomor kamar kita? Bagaimana dia tahu hotel tempat kita menginap?" Sena bangkit berdiri, menantang tatapan Baskara.
"Sejak awal, seharusnya Mas tidak memberitahunya di mana kita berada."
"Mas terlalu sibuk memanjakan perasaan wanita itu sampai lupa kalau ada wanita lain yang menyandang status istrimu di ruangan yang sama!"
Baskara terdiam, rahangnya mengeras. Ia ingin membela diri, tapi ia sadar ia memang sempat mengirimkan lokasi hotel itu pada Sarah semalam sebelum tidurnya terganggu oleh wajah Sena.
"Mas..." Sena menarik napas panjang, suaranya bergetar hebat.
"Kalau Mas memang mau ... mau berzina atau bermesraan dengannya, tolong ... jangan lakukan di depan mataku. Hargai aku sedikit saja sebagai manusia, jika Mas memang tidak bisa menghargaiku sebagai istri."
"Jaga bicaramu, Sena! Siapa yang berzina?" Baskara membentak, namun suaranya tidak sekuat biasanya karena rasa malu.
"Lalu apa namanya itu tadi? Pelukan di kamar pengantin?"
"Astagfirullah, Mas. Aku hanya wanita biasa, aku juga punya perasaan. Sebaiknya..." Sena menggantung kalimatnya. Bibirnya gemetar.
Sebaiknya kita berpisah saja? Kata itu sudah di ujung lidah Sena. Namun, ia teringat wajah Uminya. Ia teringat wajah Bu Lastri.
Pernikahan ini baru berumur dua hari. Baru dua hari, dan ia sudah merasa seperti di neraka. Haruskah ia menyerah sekarang?
Sena menunduk dalam, air matanya kembali menetes di atas aspal. Ia merasa sangat kerdil.
"Aku hanya ingin pulang ke rumah Umi, Mas," ucap Sena dengan nada yang sangat rendah, hampir putus asa.
"Izinkan aku pergi. Aku tidak minta cerai, aku tidak akan bicara apa pun pada keluarga. Aku hanya butuh waktu untuk bernapas tanpa harus melihat bayang-bayang Sarah di antara kita."
Baskara menatap puncak kepala Sena. Ada keinginan besar dalam hatinya untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan meminta maaf, namun egonya kembali berbisik bahwa ia tidak boleh kalah oleh istri perjodohan ini.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan," jawab Baskara ketus sambil menyambar paksa tas di samping Sena.
"Kalau kamu pulang sekarang, Ibu pasti akan curiga. Kamu pikir aku bodoh? Ikut aku kembali ke kamar sekarang, atau aku akan menelepon Umi-mu dan bilang kalau kamu adalah istri pembangkang!"
Sena tersentak. Ancaman Baskara mengenai titik terlemahnya