Bab 4 - Karena Cadar Yang Sempat Terlepas

1176 Words
Ia memaksakan raut wajahnya kembali mengeras, meski jantungnya masih berdegup tidak keruan. "Kenapa bunga dari Sarah ada di tong sampah?" tanya Baskara dengan nada tinggi yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya. "Dan jawab jujur ... apa kamu sudah mengadu ke Ibu tentang kiriman bunga ini?" Sena terdiam sejenak. Ia mengatur napasnya di balik cadar yang kini sudah terpasang kembali. Dengan gerakan tenang yang tak terduga, ia menatap lurus ke arah Baskara. "Kalau Mas bertanya kenapa bunganya di tempat sampah, jawabannya sederhana," ucap Sena pelan. "Bunga itu dikirim untuk Mas, bukan untukku." Baskara diam. "Tapi karena Mas tidak ada di sini dan tidak mungkin aku menyimpannya di atas ranjang kita, aku taruh di tempat yang menurutku paling pantas untuk sesuatu yang dikirim tanpa izin ke kamar pasangan yang baru menikah." Baskara tertegun. Tak mengira jika itu adalah jawaban Sena. Jadi, tempat sampah adalah tempat yang pas untuk membuang Sarah, apa itu maksudnya. Namun, Baskara tetap diam, alih-alih langsung meledak. "Soal mengadu ke Ibu..." Sena menjeda kalimatnya, ada nada getir di sana. "Untuk apa? Aku tidak ingin menambah beban Ibu hanya karena sebuah buket bunga. Lagipula, Mas bilang aku ini orang asing, kan? Mana mungkin Ibu percaya pada orang asing yang menjelekkan wanita yang sudah Mas cintai selama lima tahun." Baskara terbungkam. Kata-kata Sena barusan seperti tamparan halus yang mengenai telak harga dirinya. Sena kemudian melangkah satu tapak mendekat, membuat Baskara refleks mundur seolah terancam oleh aura istrinya yang tiba-tiba berubah kuat. "Kalau Mas merasa sangat kesal karena bunga itu aku buang, Mas bisa minta Sarah untuk mengirimnya lagi," lanjut Sena. "Tapi ... bisakah Mas minta dia untuk tidak mengirimnya ke hotel tempat kita sedang bulan madu?" Baskara ingin menjawab, tapi entah kenapa lidahnya kelu. "Meskipun kita berada di sini hanya demi orang tua Mas, tetap saja ... mengirim bunga ke kamar pengantin wanita lain itu namanya sengaja." Baskara menatap sepasang mata Sena yang berkaca-kaca, dan entah kenapa dia tertegun. "Sarah ingin menantang aku sebagai istri sah Mas, atau dia memang ingin menunjukkan kalau suamiku tidak punya harga diri di depan istrinya sendiri?" "Apa Mas tak katakan padanya bahwa pernikahan ini penting untuk ibumu? Apa dia hanya mencintaimu dan tak hargai wanita yang sudah melahirkan kamu?" Baskara memalingkan wajah, menyembunyikan rasa malu dan bimbang yang bercampur aduk. Bayangan wajah Sena yang cantik di balik cadar tadi berkelebat lagi, membuat keberaniannya untuk membela Sarah mendadak luruh. "Kamu pintar bersilat lidah, Sena!" Baskara mendengus, lalu berbalik dan membanting pintu kamar mandi untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. ** Baskara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di lehernya. Uap air hangat masih menguar dari tubuhnya, namun pikirannya jauh lebih panas. Bayangan wajah Sena yang hanya ia lihat sekilas tadi seolah menempel di pelupuk matanya, mengusik setiap jengkal logikanya yang selama ini hanya memuja Sarah. Ia mendapati Sena sudah berganti pakaian—sebuah gamis berwarna abu-abu yang longgar namun jatuh dengan anggun di tubuhnya. Wanita itu sedang sibuk memeriksa tas tangan di atas meja, hanya melirik Baskara sekilas lewat pantulan cermin tanpa sepatah kata pun. Dingin. Sikap Sena berubah menjadi tembok es yang sangat tebal. Ya, dan sejak kapan Baskara peduli dengan sikap Sena, atau sekedar berpikir tentang wanita itu. Entah kenapa sekarang Baskara mulai memikirkan Sena, walaupun ia coba menampik pikiran itu sebisanya. Tiba-tiba, ponsel Sena yang tergeletak di atas meja rias bergetar. Layarnya menyala terang. Baskara yang berdiri cukup dekat secara tidak sengaja, atau mungkin memang sengaja, melirik ke arah layar itu. Ia mengira itu dari ibunya atau mungkin pesan sampah lainnya. Namun, matanya menyipit saat membaca sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak, namun tertulis jelas di akhir pesan. Nomor tidak dikenal : Ini Zidan, semoga kamu bahagia setelah menikah, ya, Sen. Dan semoga dia lebih baik dariku dalam mencintai kamu. Darah Baskara mendidih seketika. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan asing yang ia sendiri tidak tahu namanya. Bukankah ia tidak menginginkan Sena? Bukankah baginya Sena hanya orang asing? Tapi kenapa membaca kalimat mencintai kamu dari pria lain membuat rahangnya mengeras? "Siapa Zidan?" suara Baskara memecah keheningan, berat dan penuh tuntutan. Sena tersentak kecil, lalu dengan tenang meraih ponselnya. Ia membaca pesan itu tanpa ekspresi yang bisa dibaca oleh Baskara. "Bukan siapa-siapa, Mas," jawab Sena singkat sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Bukan siapa-siapa tapi dia bicara soal mencintai?" Baskara melangkah mendekat, aroma sabun maskulinnya kini mengepung Sena. "Ternyata benar kata orang, di balik cadar dan sikap polosmu, kamu punya simpanan yang belum selesai, hah? Apa ini alasan kamu tidak mau membuka cadarmu? Karena masih menjaga perasaan pria bernama Zidan ini?" "Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia," tegas Sena. Suaranya datar, namun setiap kata yang keluar terasa begitu menghujam. Sena berbalik, menatap lurus ke arah mata Baskara yang masih berkilat penuh curiga. "Soal dia mencintaiku, itu di luar kendaliku, Mas. Siapa pun bebas mencintai siapa saja, sama seperti Mas yang begitu mencintai Sarah. Bukankah begitu?" Baskara terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Sena barusan seperti cermin besar yang diletakkan tepat di depan wajahnya, memaksanya melihat betapa standarnya sangat ganda. Ia memuja wanita lain, namun ia marah ketika ada pria lain yang hanya sekadar mengirimkan doa lewat pesan singkat kepada istrinya. "Yang penting, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya," lanjut Sena seraya menunjukkan layar ponselnya di hadapan Baskara. Jarinya bergerak lincah menekan tombol blokir pada nomor asing itu. "Lagipula, itu nomor baru. Aku tidak menyimpan nomor laki-laki mana pun, dan saat ini juga aku akan memblokirnya agar Mas tidak perlu repot-repot menuduhku yang tidak-tidak." Baskara masih mematung. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat. Ia ingin membantah, ingin kembali membentak, namun ketenangan Sena justru membuatnya terlihat seperti seorang suami yang sedang merajuk karena cemburu, sesuatu yang sangat ia benci untuk ia akui. Lagipula mustahil, cemburu hanya untuk mereka yang punya ketertarikan. Lalu apa Baskara tertarik pada Sena, itu jelas tidak benar, pikir Baskara. Melihat suaminya hanya diam, Sena menghela napas panjang di balik cadarnya. Ia merapikan tasnya, sebelum pergi ke sofa untuk istirahat. "Dan soal aku tidak membuka cadar ... itu karena Mas sendiri yang bilang tidak sudi melihat wajahku. Jadi, berhenti memutarbalikkan fakta seolah-olah aku yang sengaja merahasiakannya darimu. Aku hanya menjalankan keinginanmu, Mas." Sena terdiam sejenak, mengingat kejadian beberapa menit lalu saat wajahnya terpampang jelas di depan Baskara. "Maaf kalau tadi Mas tidak sengaja melihat wajahku. Aku tidak bermaksud sengaja memperlihatkannya. Aku hanya lupa mengunci pintu," ucapnya lirih namun penuh penekanan. Sena melangkah melewati Baskara, meninggalkan aroma harum lembut yang entah kenapa membuat Baskara merasa sesak. Baskara berdiri sendirian di tengah kamar, masih mencengkeram handuk di lehernya. Baskara masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap nanar ke arah sofa di sudut kamar. Di sana, Sena sudah merebahkan tubuhnya yang tampak mungil, meringkuk membelakanginya. Hatinya tidak tenang. Bayangan wajah cantik yang ia lihat sekilas tadi terus menari-nari di benaknya, kontras dengan kenyataan bahwa wanita itu kini tidur di sofa yang sempit dan keras. "Pindah," suara Baskara terdengar berat, memecah keheningan kamar. Sena tidak bergerak. Ia pura-pura sudah terlelap, meski jantungnya berdegup kencang. "Sena, aku tahu kamu belum tidur. Pindah ke ranjang," ulang Baskara dengan nada yang lebih ketus, seolah ingin menutupi kegelisahan di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD