Sejak tahu dirinya hamil, hari-hari Sena terasa berjalan lebih pelan dari biasanya. Pagi itu ia berdiri di dapur sambil mengaduk sup ayam bening. Uap hangat dari panci naik perlahan, memenuhi dapur dengan aroma kaldu yang ringan. Itu satu-satunya bau makanan yang tidak membuat perutnya mual hari ini. Ia mengenakan daster longgar warna pastel. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding semalam, meski masih ada sedikit lingkar hitam di bawah matanya akibat muntah berkali-kali tadi malam. Sendok sayur di tangannya terus bergerak memutar pelan. Belum sampai lima menit, sebuah suara berat sudah terdengar dari pintu dapur. "Sena, aku sudah bilang jangan berdiri lama." Sena menoleh. Baskara berdiri di sana dengan kemeja kerja yang rapi. Lengan bajunya digulu

