Suara di dalam kamar itu kini telah berubah menjadi hiruk-pikuk nafsu yang pekat, sebuah simfoni dosa yang memekakkan telinga nurani. Udara yang biasanya sejuk oleh pendingin ruangan kini terasa berat, berbau amis keringat dan aroma maskulin yang menyesakkan, menciptakan atmosfer pengap yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar yang masih memiliki moral. Cahaya lampu kamar yang temaram seolah ikut malu menyaksikan kebiadaban yang terjadi, membiarkan bayangan mereka menari-nari di dinding seperti monster yang sedang berpesta. PLOOKKK... PLOOKKK... PLOOKKK... Bunyi kulit yang beradu dengan kasar menjadi latar belakang yang konstan bagi kehancuran martabat Amelia yang kini berserakan tak berbentuk. Ardi terus memacu pinggulnya dengan ritme yang buas, tanpa sedikit pun memberikan jed

