Pagi setelah malam yang dihabiskan di klub malam, Amelia terbangun dengan rasa sakit yang jauh lebih menusuk dari biasanya, seolah seluruh permukaan kulitnya telah dijadikan sasaran pemukulan yang brutal dan tak berbelas kasih. Rasa perih yang membakar hebat di pangkal paha dan di antara kedua kakinya terasa lebih tajam dan menyakitkan, seperti memar yang tidak terlihat oleh mata telanjang, namun terasa begitu nyata, memancarkan nyeri yang tak henti-hentinya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk mengabaikan sensasi yang menyiksa itu, berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa sakitnya akan mereda dan menghilang seiring berjalannya waktu, sebuah harapan kosong yang ia pegang erat-erat di dalam hatinya yang hancur. Ketika ia mencoba untuk bergerak, setiap otot di tubuhnya terasa kaku,

