Elina akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan seperti yang diberitahu oleh Kina barusan. Jantungnya berdetak cepat, seolah firasatnya tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu temaram dari sudut langit-langit. "Radit?" Dia memanggil nama itu pelan, suaranya bergema pelan di antara dinding sunyi. Tiba-tiba, dari bayang-bayang, seseorang menariknya. Tubuhnya terayun ke depan dan tertahan oleh pelukan erat. Nafas hangat menyentuh lehernya. "Elina..." Itu suara Radit. Tapi ada yang aneh. Matanya tampak kosong namun penuh hasrat, seperti sedang berjuang dengan dirinya sendiri. "Ada apa denganmu?" tanya Elina, berusaha melepaskan diri, tapi genggamannya terlalu kuat. Tanpa banyak kata, Radit mencium bibir Elina. Ciuman itu dalam, tergesa, seper

