Desir angin pantai menyapu lembut rambut Elina yang terurai, sementara sinar matahari senja memantul ke permukaan air, menciptakan kilau keemasan di sepanjang garis pantai Lombok. Elina bersandar tenang di bahu Radit, menikmati damai yang sudah lama tak ia rasakan. "Aku masih sulit percaya," gumam Elina pelan, matanya menatap laut lepas. "Rehan melakukan semua itu, hanya demi Maya." Radit menghela napas, lengan kirinya merangkul erat tubuh Elina. "Iya. Awalnya aku kira ada motif yang lebih rumit. Tapi ternyata, hanya soal cinta yang salah arah. Cinta yang egois." Elina tersenyum miris. "Dan Maya… akhirnya memilih pergi bersama Rehan." "Aku sudah memecat Maya, dan memastikan mereka tidak akan muncul lagi dalam hidup kita," jawab Radit mantap. "Kita pantas dapat ketenangan." Elina menol

