Elina menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun biru malam yang membalut tubuhnya jatuh anggun, mempertegas siluet rampingnya. Rambutnya ditata sederhana namun elegan, dan seulas lipstik merah muda membuat senyumnya kian menawan. Untuk sesaat, dia terdiam. Ini bukan sekadar penampilan—ini adalah keberanian yang baru. Dengan satu helaan napas panjang, ia pun beranjak turun. Di lantai bawah, Radit sudah menunggu di depan pintu. Ia mengenakan jas gelap yang membuat posturnya terlihat semakin tegap. Matanya langsung tertuju pada Elina begitu wanita itu muncul di tangga. “Maaf ya, aku agak lama. Tadi ada sedikit kendala,” kata Radit dengan senyum canggung. Elina tersenyum kecil. “Tidak apa. Aku malah senang kamu datang.” Radit menatap Elina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada kekaguman

