Elina diam-diam mencuri pandang ke arah Radit, pria yang kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi tenang namun sulit ditebak. Ruangan kantor itu sunyi, hanya terdengar bunyi jam dinding yang terus berdetak, seakan ikut menghitung waktu yang terasa berat di antara mereka. "Pak Radit..." Nada suara Elina terdengar pelan, namun cukup tegas. Ada sesuatu dalam intonasinya yang membuat Radit langsung menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa, Elina?" tanyanya, nada suaranya datar tapi matanya menyelidik, seperti bisa membaca apa pun yang tengah dipikirkan wanita itu. "Saya... saya habis ini akan bertemu dengan seseorang. Mungkin nanti akan pulang sedikit malam," ucap Elina pelan, seperti tengah memilih kata-kata dengan hati-hati. Ia menggenggam ujung bajunya, gelisah. Radit menyipitkan

