“Assalamualaikum, Hasna … Putriku …” Itu suara Abi Hamzah yang baru datang, tatapannya nanar dan langsung membawa Hasna dalam pelukannya. Isak tangis Hasna kembali terdengar, Fayez memilih memberikan ruang untuk keduanya, namun tidak meninggalkan ruangan, hanya mundur untuk melihat bagaimana Hasna menumpahkan kesedihannya kepada Abinya itu. “Yang sabar ya, sayang. Yang tabah. Allah mencintaimu makanya Allah mengujimu. Jangan menyalahkan dirimu dan jangan membenci takdir yang terjadi padamu ya, sayang.” Ucap Abi Hamzah melepaskan pelukannya untuk melihat Hasna. Rasanya baru kemarin Hasna datang ke Malang dengan wajah berbinar bahagia memberitakan kehamilannya, namun kini dia harus melihat kesedihan di wajah putrinya karena kehilangan bayinya. “Tidak, Abi. Tidak sedikit pun terbesit di

