Langkah kakinya terasa berat namun ia terus melangkah, cukup gemetar dengan badan yang terasa sangat dingin. Mulanya ia masih berbaring, menatap langit-langit kamar dengan ingatan senyum ceria putrinya. Senda guraunya, wajah merajuknya, dan yang terakhir adalah mata sendu sebelum naik ke atas pelaminan. Bodoh! Makian itu terdengar jelas sering air mata yang tumpah. Ia ibu yang bodoh karena tidak sadar telah ikut mendorong putrinya ke dalam lembah mengerikan yang dimana setiap hari hanya hinaan dan siksaan fisik yang didapatkan. Bodoh! Sangat-sangat bodoh! Ia tidak pernah menyadari sebesar apa bara api yang sebenarnya telah dipegang oleh putrinya hanya karena ucapan manis “Aku baik-baik saja ibu” Ia menganggap itu memang ucapan nyata, namun ternyata hanya fana untuk menyembunyikan l

