Hingga beberapa saat, bibir mereka yang terbelenggu dalam ciuman membakar jiwa, sama-sama terlepas. Kening mereka saling bertaut, napas yang tercekat saling berpacu, membiarkan gelombang perasaan tak menentu bergemuruh dalam d**a masing-masing. "Aku ... aku mau ke toilet." Suara Devan terbata-bata, wajahnya memerah. Tanpa menunggu jawaban, dia bergegas meninggalkan ruangan dengan langkah gemetar. Wilona terpaku, hati dan pikirannya bergulat dalam kebingungan. "Apa maksud Devan dengan semua ini? Setelah dia yang memulai duluan, kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja? Apa menurutnya, aku ini hanya permainannya saja? Devan juga bilang mau mengakhiri kontrak pernikahan dan memulai semuanya dari nol, tapi tindakannya barusan justru membuat aku sakit." Dia memejamkan mata, mencoba mengumpulkan

