Opening Cafe

1770 Words

Pagi itu berbeda, sejak matahari terbit, Juna sudah berdiri di depan ruko yang kini berubah wajah. Dindingnya dicat warna hangat, disesuaikan dengan konsep cafe tempat bersantai. Aroma kopi pertama yang diseduh perlahan merambat keluar, bercampur dengan udara pagi yang masih basah sisa hujan semalam. Di papan depan, sebuah nama sederhana terpampang. Tidak berlebihan, tidak mencolok. Namun cukup untuk membuat d**a Juna bergetar pelan. Cafe itu akhirnya dibuka. Juna berdiri sejenak, memejamkan mata. Ia mengingat bulan-bulan terakhir hari ketika ia duduk linglung di teras rumah, bingung harus ke mana melangkah, hari ketika uang terasa begitu menakutkan, dan malam-malam ketika ia merasa gagal sebagai laki-laki. Kini ia berdiri di sini, tidak kaya, tidak juga sempurna, tapi utuh. “Mas.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD